Bruntusan di Bawah Mata? Jangan Buru-Buru Dipencet, Ini yang Perlu Kamu Tahu
Eva Mulia Clinic – Area bawah mata yang tiba-tiba terasa kasar atau muncul bintik-bintik kecil putih sering bikin panik. Banyak yang langsung mengira ini jerawat biasa lalu mencoba memencet atau mengoleskan obat totol. Padahal kulit di sekitar mata jauh lebih tipis dan sensitif dibanding area wajah lainnya. Salah langkah bisa bikin iritasi atau bahkan meninggalkan bekas.
Bruntusan di bagian bawah mata paling sering berupa milia—kista kecil berisi keratin yang terperangkap di bawah permukaan kulit. Berbeda dengan komedo tertutup atau jerawat pasir, milia tidak punya pori terbuka dan isinya bukan sebum. Itu sebabnya memencet hampir selalu gagal dan justru berisiko.
Kok Bisa Muncul Bruntusan Tepat di Bawah Mata?
Kulit bawah mata termasuk yang paling tipis di wajah. Proses regenerasi sel di sini cenderung lebih lambat, sehingga sel kulit mati dan keratin lebih gampang terjebak. Hasilnya muncul bintik putih atau kekuningan seukuran kepala jarum yang terasa keras saat disentuh.
Beberapa faktor yang sering memicu:
- Penggunaan produk yang terlalu berat atau berminyak di area mata (termasuk eye cream yang komedogenik).
- Sisa makeup mata yang tidak bersih sempurna, terutama waterproof mascara atau eyeliner.
- Paparan sinar matahari berulang tanpa perlindungan, yang bisa merusak proses pelepasan sel kulit.
- Kebiasaan menggosok atau menyentuh area mata dengan tangan yang kurang bersih.
- Setelah iritasi atau prosedur tertentu, seperti peeling yang terlalu agresif di area sekitar.
Yang jarang disadari: kadang milia muncul setelah pemakaian steroid topikal jangka panjang atau sebagai respons sekunder setelah kerusakan kulit.
Beda Bruntusan Bawah Mata dengan Jerawat Biasa atau Komedo
Milia terasa lebih padat dan “keras” dibanding whitehead. Warnanya biasanya putih mutiara atau kekuningan, tidak meradang, dan tidak sakit. Kalau kamu mencoba memencet, isinya tidak keluar seperti nanah atau sebum—karena memang bukan pori yang tersumbat.
Komedo tertutup (closed comedone) atau jerawat pasir lebih sering muncul di zona T dan terasa lebih “lunak”. Sementara bintitan atau kalazion biasanya lebih besar, merah, dan nyeri. Kalau yang muncul di kelopak atau tepat di bawah mata terasa keras dan menetap berbulan-bulan, kemungkinan besar milia.
Membedakan ini penting supaya kamu tidak salah pakai produk. Bahan aktif kuat seperti salicylic acid konsentrasi tinggi atau benzoyl peroxide yang biasa dipakai untuk jerawat justru bisa mengiritasi area mata.
Langkah Aman yang Bisa Dicoba di Rumah
Jangan langsung ke treatment agresif. Mulai dari yang paling sederhana dulu.
Bersihkan area mata dengan lembut setiap malam. Gunakan pembersih berbasis minyak atau micellar water yang diformulasikan untuk mata, lalu lanjutkan dengan facial wash ringan. Hindari menggosok terlalu keras.
Pilih eye cream yang ringan, non-comedogenic, dan idealnya mengandung bahan yang mendukung regenerasi tanpa menyumbat. Retinol konsentrasi sangat rendah (0,01–0,03 %) atau retinaldehyde dalam formula eye-specific kadang membantu mempercepat pergantian sel, tapi mulai 1–2 kali seminggu dan selalu diikuti pelembap. Kalau kulit terasa perih, hentikan.
Eksfoliasi kimia yang sangat lembut seperti lactic acid konsentrasi rendah bisa dipertimbangkan untuk area sekitar (bukan langsung di kelopak). Tapi area bawah mata sebaiknya dihindari dulu sampai kamu yakin toleransinya baik.
Kompres hangat singkat (5 menit) dengan kain bersih bisa membantu melunakkan sedikit, meski efeknya terbatas pada milia yang sudah terbentuk.
Yang paling penting: tahan keinginan memencet. Kulit tipis di bawah mata mudah memar dan berisiko infeksi atau scarring.
Kapan Bruntusan Bawah Mata Perlu Ditangani di Klinik?
Kalau bintik-bintik sudah menetap lebih dari 2–3 bulan, jumlahnya bertambah, atau mulai mengganggu secara visual, evaluasi profesional lebih aman. Di Eva Mulia Clinic, penanganan milia di area mata biasanya dimulai dengan pemeriksaan untuk memastikan jenisnya, lalu dilakukan ekstraksi manual dengan jarum steril yang sangat halus oleh tenaga terlatih. Prosesnya cepat dan relatif minim trauma jika dilakukan dengan benar.
Untuk kasus yang lebih banyak atau berulang, kadang digabung dengan chemical peeling superfisial dosis sangat rendah yang disesuaikan khusus area sensitif. Tujuannya bukan “mengikis” agresif, melainkan membantu mempercepat pelepasan keratin yang terjebak tanpa merusak barrier. Setelah prosedur, fokus tetap pada pelembap barrier-repair dan sunscreen yang lembut.
Hindari mencoba “home extraction” atau memakai alat comedone extractor sendiri di area ini. Risiko kerusakan terlalu tinggi.
Kebiasaan Sehari-hari yang Sering Bikin Bruntusan Kembali
Makeup mata yang tidak dibersihkan sempurna jadi pemicu klasik. Ganti mascara dan eyeliner setiap 3–6 bulan, dan jangan pernah tidur dengan makeup.
Sarung bantal yang jarang diganti juga bisa menjadi penyebabnya. Minyak dan residu produk menempel lalu berpindah ke wajah saat tidur.
Kalau kamu pakai eye cream atau serum yang terasa “berat” dan meninggalkan film lengket, pertimbangkan ganti ke formula lebih ringan. Beberapa bahan seperti minyak mineral atau lanolin dalam konsentrasi tinggi bisa jadi komedogenik di area sensitif.
Paparan UV tetap perlu diwaspadai. Pilih sunscreen yang tidak menyengat mata dan bisa dipakai sampai dekat area bawah mata, atau gunakan kacamata hitam yang melindungi.
Bahan Aktif yang Lebih Bersahabat untuk Area Sekitar Mata
Niacinamide 2–5 % dalam formula ringan bisa membantu menjaga barrier dan mengurangi inflamasi ringan. Ceramide dan glycerin mendukung hidrasi tanpa menyumbat.
Untuk jangka panjang, retinoid dosis sangat rendah yang diformulasikan khusus mata kadang dipakai di bawah pengawasan, karena membantu normalisasi pergantian sel. Tapi ini bukan solusi instan dan harus diperkenalkan perlahan.
Hindari AHA/BHA konsentrasi tinggi, scrub fisik, atau produk “acne fighting” yang ditujukan untuk wajah biasa. Area bawah mata bukan tempatnya.
Kalau bruntusan muncul bersamaan dengan gatal atau kemerahan di kelopak, pertimbangkan kemungkinan blefaritis atau kondisi lain yang butuh penanganan berbeda. Konsultasi dengan dokter kulit atau dokter mata bisa membantu membedakannya.
Bruntusan di bawah mata memang mengganggu, tapi bukan berarti harus ditangani secara kasar. Mulai dari pembersihan lembut, produk yang tepat, dan kesabaran. Kalau sudah mencoba konsisten selama beberapa minggu tapi hasilnya minim, bantuan profesional di Eva Mulia Clinic bisa memberi opsi yang lebih aman dan terarah tanpa memaksakan kulit yang sudah sensitif.
Perhatikan bagaimana kulitmu bereaksi setiap kali mencoba sesuatu yang baru. Area ini tipikal “kurang is more”—lebih baik lambat dan stabil daripada cepat tapi berisiko iritasi.
Baca juga:
- Jerawat di Kelopak Mata: Apa Penyebabnya dan Bagaimana Cara Mengatasinya?
- Bruntusan di Jidat Bikin Takut Sentuh Wajah? Ini yang Sebenarnya Terjadi dan Cara Mengatasinya
- Atasi Jerawat Pasir Sekarang! Rahasia Kulit Mulus Bebas Tekstur yang Jarang Kamu Tahu
- Treatment Kulit Berjerawat di Eva Mulia Clinic: Mana yang Cocok untuk Kondisimu?
FAQ
1. Apakah bruntusan di bawah mata sama dengan milia?
Ya, sebagian besar yang disebut bruntusan di area ini adalah milia—kista keratin kecil yang terperangkap di bawah kulit. Berbeda dengan jerawat atau komedo biasa.
2. Bolehkah memakai salicylic acid di bawah mata untuk mengatasi bruntusan?
Umumnya tidak disarankan. Area ini terlalu sensitif. Konsentrasi rendah pun bisa mengiritasi. Lebih aman fokus pada pembersihan lembut dan formula khusus mata.
3. Berapa lama milia di bawah mata biasanya hilang sendiri?
Bisa berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Beberapa menetap lebih lama dan baru membaik setelah ekstraksi profesional.
4. Apakah eye cream bisa menyebabkan bruntusan di bawah mata?
Bisa, terutama jika formula terlalu berat, berminyak, atau mengandung bahan komedogenik. Pilih yang non-comedogenic dan ringan.
5. Kapan harus ke dokter untuk bruntusan di bawah mata?
Jika sudah lebih dari 2–3 bulan tidak membaik, jumlahnya bertambah, atau disertai kemerahan/nyeri, sebaiknya diperiksa agar penanganannya tepat dan aman.