Bekas Luka Menonjol Permanen? Bedah Tuntas Penyebab Keloid dan Solusi Medisnya di Eva Mulia Clinic
Eva Mulia Clinic – Bagi sebagian besar individu, sebuah luka hanyalah fase sementara dalam kehidupan biologis kulit. Tubuh memiliki mekanisme alami yang luar biasa untuk memperbaiki jaringan yang rusak, menutup celah, dan mengembalikan integritas pertahanan tubuh, yang seringkali berakhir dengan garis tipis samar yang nyaris tak terlihat. Namun, narasi penyembuhan ini tidak selalu berjalan mulus bagi semua Pasien. Ada kalanya, proses reparasi kulit tersebut berubah menjadi mimpi buruk estetika yang berkepanjangan. Luka yang seharusnya berhenti tumbuh setelah menutup, justru terus berkembang secara agresif, menebal, menonjol di atas permukaan kulit, bahkan melebar melampaui batas luka aslinya. Fenomena patologis ini dikenal dalam dunia medis sebagai keloid.
Kehadiran keloid seringkali membawa beban psikologis yang berat bagi Pasien. Bukan hanya sekadar masalah visual, keloid sering disertai dengan gejala fisik yang mengganggu kualitas hidup, seperti rasa gatal yang intens, nyeri saat ditekan, hingga sensasi kulit yang tertarik kaku. Banyak Pasien yang datang ke Eva Mulia Clinic dengan riwayat frustrasi panjang setelah mencoba berbagai metode rumahan atau produk yang dijual bebas tanpa hasil yang signifikan. Memahami penyebab keloid secara komprehensif adalah fondasi utama dalam penanganan kasus ini. Tanpa pemahaman mendalam mengenai apa yang terjadi di level seluler, upaya penyembuhan seringkali hanya bersifat permukaan dan sementara.
Keloid bukanlah sekadar “daging tumbuh” biasa. Ia adalah manifestasi dari respons penyembuhan tubuh yang “over-reaktif” dan gagal mengenali sinyal untuk berhenti. Sebagai klinik yang telah berdiri sejak tahun 1977, Eva Mulia Clinic memahami bahwa setiap benjolan keloid memiliki cerita biologis yang unik. Melalui artikel deep dive ini, kita akan menelusuri secara ilmiah namun mudah dipahami mengenai anatomi kegagalan penyembuhan luka, faktor risiko yang sering terabaikan, hingga intervensi medis yang terbukti klinis mampu mengendalikan pertumbuhan jaringan parut yang membandel ini.
Mengapa Mekanisme Kulit Bisa Gagal? Analisa Anatomis dan Akar Masalah

Untuk memahami mengapa sebuah luka bermutasi menjadi keloid, kita harus menyelami lapisan kulit yang lebih dalam, tepatnya di area dermis retikuler. Secara fisiologis normal, penyembuhan luka (wound healing) terdiri dari tiga fase utama yang terorkestrasi dengan rapi: fase inflamasi (peradangan), fase proliferasi (pembentukan jaringan baru), dan fase remodeling (pematangan). Pada kulit yang sehat, ketiga fase ini memiliki titik awal dan titik akhir yang jelas. Ketika jaringan luka sudah tertutup sempurna oleh collagen baru, tubuh akan mengirimkan sinyal biokimia kepada sel-sel pekerja yang disebut fibroblast untuk menghentikan produksi dan melakukan apoptosis (kematian sel terprogram). Hasil akhirnya adalah bekas luka yang datar, lunak, dan berwarna pucat.
Namun, pada kasus keloid, terjadi disfungsi fundamental pada fase remodeling. Penyebab keloid utamanya berakar pada kegagalan mekanisme kontrol seluler ini. Fibroblast pada jaringan keloid seolah menjadi “tuli” terhadap sinyal berhenti dari tubuh. Sel-sel ini terus-menerus memproduksi collagen—terutama Tipe I dan Tipe III—dalam jumlah yang masif dan berlebihan. Masalahnya bukan hanya pada jumlah, tetapi juga pada struktur. Jika pada kulit normal serat collagen tersusun rapi seperti anyaman keranjang, pada jaringan keloid, serat-serat ini bertumpuk secara acak, padat, dan berputar-putar (whorled pattern), membentuk nodul keras yang menonjol di permukaan kulit.
Faktor internal memainkan peran yang sangat dominan dan seringkali tidak bisa dihindari. Predisposisi genetik adalah variabel yang paling signifikan. Pasien dengan kulit yang memiliki konsentrasi melanin tinggi (seperti ras Asia, Afrika, dan Hispanik) memiliki risiko statistik 15 kali lebih tinggi dibandingkan ras Kaukasia. Hal ini berkaitan dengan variasi genetik pada gen HLA (Human Leukocyte Antigen) yang mempengaruhi respons imun kulit terhadap trauma. Selain itu, faktor hormonal juga memiliki korelasi kuat. Keloid seringkali muncul atau memburuk pada masa pubertas dan kehamilan, di mana kadar hormon pertumbuhan dan estrogen sedang tinggi, yang diduga turut menstimulasi aktivitas fibroblast.
Lokasi anatomis luka juga menjadi penentu krusial. Terdapat area-area tertentu pada tubuh yang dikenal sebagai “high tension areas” atau area dengan regangan kulit tinggi, seperti dada bagian tengah (presternal), punggung atas, bahu (deltoid), dan daun telinga. Pada area ini, setiap gerakan tubuh menciptakan tarikan mekanis pada kulit. Tarikan konstan ini diterjemahkan oleh sel kulit sebagai sinyal bahwa “luka belum sembuh dan rentan robek”, sehingga memicu produksi collagen tambahan sebagai mekanisme pertahanan. Inilah alasan mengapa jerawat kecil di dada bisa berakhir menjadi keloid besar, sementara luka sayat di wajah (area dengan regangan rendah) sembuh dengan lebih baik.
Analisa mendalam ini juga menjawab pertanyaan mengapa produk over-the-counter (OTC) seperti krim penghilang bekas luka seringkali gagal total. Sebagian besar krim topikal hanya bekerja melembapkan lapisan epidermis (kulit terluar) atau memberikan oklusi ringan. Padahal, patologi keloid terjadi jauh di kedalaman dermis, di mana deposit collagen tebal berada. Molekul aktif dalam krim kosmetik umumnya terlalu besar untuk menembus skin barrier dan mencapai target sel fibroblast yang bermasalah. Tanpa intervensi yang mampu menjangkau kedalaman jaringan dan memodulasi perilaku sel, pengobatan hanyalah sia-sia. Di sinilah peran Dokter Profesional dan tindakan klinis menjadi satu-satunya jalur solusi yang logis.
Injeksi Intralesional: Standar Emas Pengendalian Jaringan Parut
Menghadapi keloid memerlukan strategi medis yang agresif namun terkukur. Di Eva Mulia Clinic, pendekatan terapi difokuskan untuk memutus rantai produksi collagen yang abnormal dan memecah jaringan fibrotik yang sudah terbentuk. Mengingat penyebab keloid yang kompleks, solusi tunggal jarang memberikan hasil instan. Namun, Intralesional Corticosteroid Injection tetap menjadi modalitas utama atau gold standard dalam penanganan keloid di dunia medis dermatologi.
Mekanisme kerja dari suntikan steroid (biasanya menggunakan Triamcinolone Acetonide) sangat spesifik dan bekerja pada level seluler. Berbeda dengan obat oles, teknik intralesional menempatkan obat langsung ke dalam massa keloid, memastikan konsentrasi obat yang tinggi tepat di sumber masalah.
- Penghambatan Sintesis Kolagen Kortikosteroid bekerja dengan menekan ekspresi gen yang bertanggung jawab atas produksi collagen. Obat ini secara efektif mengurangi sintesis collagen, glikosaminoglikan, dan mediator inflamasi lainnya. Dengan kata lain, suntikan ini “mematikan saklar” pabrik produksi jaringan parut di dalam keloid, mencegahnya bertambah besar.
- Pemicu Degradasi Jaringan (Collagenase) Selain menghentikan produksi baru, terapi ini juga mempercepat pemecahan jaringan lama. Steroid meningkatkan aktivitas enzim collagenase, yaitu enzim alami tubuh yang bertugas mengurai ikatan protein collagen. Hal ini menyebabkan struktur keloid yang tadinya padat dan keras perlahan-lahan menjadi lunak dan menyusut. Inilah yang membuat Pasien merasakan benjolan semakin datar setelah beberapa kali sesi.
- Efek Anti-Inflamasi dan Vasokonstriksi Keloid yang aktif seringkali berwarna merah menyala dan terasa gatal karena adanya peradangan kronis dan pembuluh darah yang melebar. Kortikosteroid memiliki efek vasokonstriksi yang kuat, yaitu menyempitkan pembuluh darah kapiler yang memberi makan jaringan keloid. Dengan berkurangnya suplai darah dan oksigen ke jaringan abnormal tersebut, warna kemerahan akan mereda, rasa gatal menghilang, dan aktivitas seluler melambat signifikan.
Untuk kasus yang lebih resisten atau keloid yang sangat besar, Dokter Profesional di Eva Mulia Clinic mungkin akan menyarankan kombinasi terapi. Salah satu yang sering dipadukan adalah Cryotherapy (bedah beku). Teknik ini menggunakan nitrogen cair untuk membekukan jaringan keloid dari dalam ke luar. Kristal es yang terbentuk akan merusak mikrosirkulasi di dalam keloid, menyebabkan nekrosis (kematian jaringan) yang terkontrol. Kombinasi injeksi steroid dan cryotherapy seringkali memberikan hasil penyusutan yang lebih dramatis dibandingkan monotherapy, karena kedua modalitas ini menyerang keloid dari dua mekanisme yang berbeda namun saling melengkapi.
Penting untuk dipahami bahwa regenerasi sel yang sehat pasca-treatment adalah proses bertahap. Jaringan parut yang tebal tidak bisa menghilang dalam semalam. Respons setiap individu terhadap injeksi juga bervariasi tergantung pada usia keloid, ketebalan, dan faktor genetik masing-masing Pasien. Konsistensi dan kesabaran adalah kunci dalam protokol perawatan ini.
Prosedur Klinis: Ekspektasi dan Langkah Penanganan di Klinik
Menjalani prosedur medis untuk pertama kali mungkin menimbulkan pertanyaan atau kecemasan mengenai rasa sakit dan prosesnya. Di Eva Mulia Clinic, setiap langkah dilakukan dengan standar sterilitas tinggi dan prioritas pada kenyamanan Pasien. Berikut adalah gambaran rinci mengenai apa yang terjadi selama prosedur penanganan keloid.
- Evaluasi Klinis dan Pemetaan Setiap sesi dimulai dengan inspeksi visual dan palpasi (perabaan) oleh Dokter Profesional. Dokter akan menilai densitas (kekerasan) keloid, dimensi, tanda-tanda inflamasi aktif (seperti kemerahan atau nanah), serta lokasi anatomisnya. Penilaian ini menentukan konsentrasi obat yang akan digunakan. Keloid yang sangat keras mungkin memerlukan dosis yang berbeda dibandingkan keloid yang baru tumbuh dan lunak. Riwayat medis Pasien juga ditinjau untuk memastikan tidak ada kontraindikasi.
- Preparasi Area dan Asepsis Kebersihan adalah prioritas mutlak untuk mencegah infeksi sekunder. Area keloid dan kulit sekitarnya akan didesinfeksi menggunakan alkohol medis atau larutan antiseptik khusus. Meskipun prosedur ini relatif cepat, bagi Pasien yang memiliki kekhawatiran terhadap jarum suntik, aplikasi krim anestesi topikal (baal) dapat dilakukan 30-45 menit sebelum tindakan untuk meminimalisir sensasi di permukaan kulit.
- Teknik Injeksi Intralesional Dokter akan menyuntikkan obat langsung ke dalam inti jaringan keloid (papillary dermis). Pasien mungkin akan merasakan resistensi atau tekanan yang cukup kuat saat cairan obat didorong masuk. Hal ini wajar terjadi karena jaringan keloid sangat padat dan keras, berbeda dengan jaringan lemak atau otot yang lunak. Sensasi yang umum dirasakan adalah rasa sedikit perih atau stinging dan rasa penuh/tertekan pada area tersebut. Segera setelah injeksi, keloid biasanya akan terlihat memucat (blanching) untuk sementara waktu.
- Fase Post-Care dan Observasi Setelah penyuntikan selesai, area akan dibersihkan kembali dan ditutup dengan plester kecil jika ada sedikit perdarahan titik (pinpoint bleeding). Pasien dapat langsung beraktivitas normal tanpa waktu pemulihan (downtime). Rasa nyeri ringan atau pegal mungkin bertahan selama beberapa jam, namun umumnya sangat dapat ditoleransi. Pasien diwajibkan untuk tidak memanipulasi, menggaruk, atau memijat area keloid yang baru disuntik untuk mencegah iritasi.
- Jadwal Follow-Up Berkala Satu kali tindakan jarang cukup untuk menuntaskan keloid. Protokol standar melibatkan serangkaian injeksi dengan interval 3 hingga 4 minggu. Jarak waktu ini memberikan kesempatan bagi obat untuk bekerja melunakkan jaringan dan bagi tubuh untuk merespons. Melewatkan jadwal kunjungan dapat menyebabkan rebound phenomenon, di mana keloid kembali aktif tumbuh sebelum benar-benar terkontrol. Dokter akan memantau progres penipisan keloid di setiap kunjungan dan menyesuaikan dosis obat jika diperlukan.
Fakta Medis vs Mitos Berbahaya: Hindari Kesalahan Fatal
Dalam upaya mencari kesembuhan, banyak Pasien terjebak pada informasi yang salah kaprah yang beredar di internet atau saran turun-temurun yang tidak ilmiah. Meluruskan kesalahpahaman ini sangat krusial untuk mencegah kerusakan kulit yang lebih parah.
Salah satu mitos paling populer namun berbahaya adalah keyakinan bahwa keloid harus “dipotong dan dibuang” (eksisi bedah) agar hilang selamanya. Faktanya, melakukan pembedahan pada pasien dengan bakat keloid memiliki risiko kekambuhan (recurrence rate) yang sangat tinggi, mencapai 45% hingga 100% jika tanpa terapi tambahan. Luka sayatan bedah adalah trauma baru bagi kulit. Tubuh akan merespons trauma ini dengan memproduksi collagen yang lebih masif lagi, seringkali menghasilkan keloid baru yang jauh lebih besar dan lebih buruk dari keloid aslinya. Pembedahan hanya boleh dilakukan dalam kasus tertentu dengan kombinasi ketat radioterapi atau injeksi steroid pasca-operasi.
Mitos kedua yang sering terdengar adalah penggunaan bahan dapur seperti bawang putih, cuka apel, atau pasta gigi untuk “membakar” keloid. Secara medis, praktik ini sangat tidak disarankan. Bahan-bahan tersebut bersifat kaustik dan iritatif. Mengoleskannya pada keloid tidak akan menembus ke dalam dermis untuk menghentikan fibroblast, melainkan hanya akan menyebabkan luka bakar kimiawi pada epidermis. Iritasi dan peradangan tambahan ini justru menjadi sinyal bagi tubuh untuk mempertebal pertahanan kulit, yang pada akhirnya memperburuk kondisi keloid, menyebabkan hiperpigmentasi (noda hitam), atau infeksi.
Keloid adalah kondisi dermatologis yang kompleks dan menantang, yang melibatkan interaksi rumit antara genetik, trauma fisik, dan respons seluler tubuh. Memahami bahwa ini adalah masalah medis—bukan sekadar kosmetik—adalah langkah awal menuju penyembuhan yang efektif. Metode “coba-coba” seringkali hanya membuang waktu dan biaya, serta berpotensi memperburuk keadaan jaringan parut Anda.
Di Eva Mulia Clinic, kami menggabungkan pengalaman puluhan tahun dengan pendekatan medis terkini untuk memberikan solusi yang realistis dan aman. Jangan biarkan bekas luka mendefinisikan penampilan Anda selamanya. Konsultasikan kondisi spesifik Anda dengan Dokter Profesional kami untuk mendapatkan rencana perawatan yang terukur. Kembali miliki kulit yang sehat dan kepercayaan diri yang utuh bersama penanganan ahli yang tepat.