Perbedaan Sunscreen dan Sunblock: Mana yang Cocok untuk Kulitmu?

Eva Mulia Clinic – Banyak yang masih memisahkan “sunscreen” dan “sunblock” seolah keduanya produk berbeda yang harus dipilih satu. Padahal di label produk sekarang, istilah sunblock semakin jarang dipakai. Regulator di banyak negara bahkan tidak lagi mengizinkan kata “sunblock” karena tidak ada produk yang benar-benar memblokir 100% sinar UV.

Yang sering terjadi tanpa disadari: orang memilih produk hanya karena ada tulisan “sunblock” di kemasan, padahal isinya sama saja dengan sunscreen biasa. Atau sebaliknya, mengira semua yang berlabel sunscreen pasti lebih ringan dan cocok untuk kulit berminyak. Faktanya lebih sederhana dan lebih teknis.

Di Eva Mulia Clinic, pertanyaan soal perbedaan sunscreen dan sunblock masih sering muncul saat konsultasi proteksi matahari. Biasanya karena label lama atau informasi di media sosial yang belum diperbarui.

Apa yang Sebenarnya Dimaksud dengan Sunscreen dan Sunblock?

Sunscreen untuk Kulit Bruntusan: Mana yang Benar-benar Aman Dipakai Setiap Hari?

Sunscreen adalah istilah umum untuk semua produk topikal yang melindungi kulit dari radiasi ultraviolet. Cara kerjanya bergantung pada jenis filter yang digunakan.

Filter kimia (sering disebut chemical sunscreen) mengandung bahan organik seperti avobenzone, octinoxate, octisalate, atau homosalate. Bahan-bahan ini menyerap energi UV, lalu mengubahnya menjadi panas yang dilepaskan dari permukaan kulit. Teksturnya biasanya lebih ringan, cepat meresap, dan jarang meninggalkan white cast.

Filter fisik atau mineral (yang dulu sering disebut sunblock) memakai zinc oxide dan/atau titanium dioxide. Dulu orang mengira bahan ini hanya memantulkan dan menyebarkan sinar UV seperti cermin kecil. Penelitian terbaru menunjukkan mekanisme utamanya tetap penyerapan, ditambah sedikit refleksi dan scattering. Zinc oxide memberikan proteksi UVA yang lebih luas, sementara titanium dioxide lebih kuat di area UVB.

Istilah sunblock muncul karena kesan “menghalangi” secara fisik. Tapi karena tidak ada yang memblokir total, banyak otoritas kesehatan sekarang menyarankan memakai kata sunscreen saja untuk semua jenis.

Perbedaan Sunscreen dan Sunblock dari Sisi Cara Kerja dan Kandungan

Perbedaan yang paling jelas ada di bahan aktif dan bagaimana filter itu berinteraksi dengan kulit.

Filter kimia perlu waktu sekitar 15–20 menit untuk terserap dan mulai bekerja optimal. Karena masuk ke lapisan atas kulit, beberapa orang dengan kulit sensitif bisa merasakan perih atau kemerahan, terutama kalau formula mengandung oxybenzone atau octinoxate dalam kadar tinggi.

Filter mineral mulai bekerja segera setelah dioleskan karena membentuk lapisan di permukaan. Risiko iritasi biasanya lebih rendah, sehingga sering dipilih untuk kulit sensitif, kulit anak, atau kondisi seperti rosacea. Kekurangannya: tekstur bisa terasa lebih tebal dan meninggalkan white cast, terutama di kulit yang lebih gelap, meski formula modern sudah jauh lebih transparan berkat partikel yang digiling lebih halus (micronized atau nano, dengan catatan keamanan tertentu).

Ada juga hybrid yang menggabungkan keduanya. Banyak produk di pasaran sekarang memakai kombinasi agar mendapat keunggulan masing-masing: proteksi luas plus tekstur yang lebih nyaman.

Yang sering luput diperhatikan adalah stabilitas. Beberapa filter kimia, terutama avobenzone, bisa terurai lebih cepat di bawah sinar matahari kalau tidak distabilkan dengan baik. Zinc oxide relatif lebih stabil.

Mana yang Lebih Cocok untuk Jenis Kulit Tertentu?

Kulit sensitif atau yang mudah iritasi biasanya lebih nyaman dengan mineral (zinc oxide dan titanium dioxide). Karena residualnya di permukaan, kemungkinan bahan aktif masuk terlalu dalam lebih kecil.

Kulit berminyak atau kombinasi sering memilih filter kimia atau hybrid bertekstur ringan supaya tidak menambah kilap. Tapi ini bukan aturan mutlak. Banyak mineral sunscreen sekarang diformulasikan oil-free dan matte.

Kulit kering cenderung suka formula mineral yang diperkaya pelembap, atau chemical sunscreen yang mengandung humektan seperti glycerin dan hyaluronic acid. Yang penting bukan sekadar jenis filternya, tapi keseluruhan formula: ada tidaknya alkohol tinggi, fragrance, atau bahan pengering lain.

Untuk aktivitas luar ruangan lama atau berenang, pilih yang water-resistant (biasanya bertahan 40 atau 80 menit) dan tetap reapply sesuai petunjuk. Baik chemical maupun mineral sama-sama butuh dioles ulang.

Yang Perlu Dicek di Label Selain Tulisan Sunscreen atau Sunblock

SPF minimal 30 untuk aktivitas sehari-hari di Indonesia. Broad spectrum wajib, supaya UVA (penyebab penuaan dan pigmentasi) dan UVB (penyebab sunburn) sama-sama terlindungi. PA+++ atau PA++++ memberikan indikasi proteksi UVA yang lebih baik.

Lihat urutan bahan. Kalau zinc oxide atau titanium dioxide muncul di urutan atas, itu mineral-dominant. Kalau daftarnya didominasi nama kimia seperti avobenzone dan octocrylene, itu chemical.

Perhatikan juga klaim “non-comedogenic”, “fragrance-free”, atau “untuk kulit sensitif” kalau kulitmu mudah bereaksi. Jangan hanya terpaku pada kata sunblock yang terdengar lebih “kuat”.

Di Eva Mulia Clinic, saat menilai rutinitas proteksi pasien, yang dilihat bukan sekadar jenis filter, tapi bagaimana formula itu berinteraksi dengan kondisi barrier kulit saat ini, riwayat iritasi, dan kebiasaan paparan matahari sehari-hari.

Masih Perlu Ribet Memilih Antara Keduanya?

Tidak. Yang lebih penting adalah konsistensi pemakaian. Produk yang kamu suka teksturnya dan mau dipakai setiap hari jauh lebih berguna daripada produk “paling bagus” yang dibiarkan di meja rias.

Oleskan cukup (sekitar dua jari untuk wajah dan leher), tunggu beberapa menit sebelum makeup kalau perlu, dan reapply setiap dua jam atau setelah berkeringat/berenang. Kombinasikan dengan topi, baju lengan panjang, dan mencari teduh saat indeks UV tinggi.

Kalau kulitmu pernah bereaksi terhadap sunscreen tertentu, catat bahan aktif yang dicurigai. Bisa jadi bukan jenis chemical versus mineral secara keseluruhan, tapi satu bahan spesifik yang tidak cocok.

Perbedaan sunscreen dan sunblock yang dulu diajarkan di banyak artikel sekarang lebih tepat dipahami sebagai perbedaan filter kimia dan filter mineral. Keduanya adalah sunscreen. Pilih yang sesuai dengan kebutuhan kulitmu, bukan hanya karena namanya terdengar lebih protektif.

Kalau masih ragu formula mana yang paling aman untuk kondisi kulitmu sekarang, konsultasi bisa membantu menyaring pilihan berdasarkan riwayat iritasi dan tipe kulit secara langsung.

Baca juga:

FAQ

1. Apakah sunblock benar-benar lebih kuat daripada sunscreen?
Tidak. Tidak ada produk yang memblokir 100% UV. Istilah sunblock menyesatkan. Yang menentukan kekuatan proteksi adalah SPF, broad spectrum, dan cara pemakaian, bukan nama di kemasan.

2. Filter mineral (dulu disebut sunblock) selalu lebih aman untuk kulit sensitif?
Umumnya ya, karena risikonya lebih rendah menimbulkan iritasi. Tapi formula mineral yang mengandung bahan tambahan lain tetap bisa memicu reaksi pada sebagian orang.

3. Apakah chemical sunscreen berbahaya karena terserap ke kulit?
Bahan aktifnya memang terserap dalam jumlah kecil. Untuk sebagian besar orang dewasa, produk yang sudah terdaftar BPOM dianggap aman dipakai sesuai anjuran. Kalau punya kekhawatiran khusus (kehamilan, kulit sangat sensitif), mineral bisa jadi pilihan alternatif.

4. Bolehkah memakai keduanya bersamaan?
Boleh. Banyak produk hybrid memang dirancang begitu. Atau kamu bisa memakai mineral di area yang lebih sensitif dan chemical di area lain, asalkan total jumlahnya cukup.

5. Kenapa banyak produk sekarang tidak memakai kata sunblock lagi?
Karena regulator di berbagai negara menilai istilah itu menyesatkan. Tidak ada yang benar-benar “memblokir” total, jadi label diseragamkan menjadi sunscreen.


Baca Juga