AHA, BHA, dan PHA: Boleh Dicampur atau Harus Dipisah?
Eva Mulia Clinic – Kamu baru mulai eksfoliasi kimia. Di keranjang belanja sudah ada toner AHA, serum BHA, dan pelembap yang mengandung PHA. Pertanyaan yang muncul: AHA, BHA, dan PHA boleh dipakai bersamaan atau harus bergantian?
Ketiga bahan ini sama-sama asam hidroksi yang membantu mengangkat sel kulit mati. Tapi cara kerjanya berbeda, kedalaman penetrasinya berbeda, dan toleransi kulit terhadap masing-masing juga berbeda. Mencampur tanpa memahami perbedaan itu sering berakhir dengan perih, kemerahan, atau barrier yang rusak.
Perbedaan Dasar yang Perlu Dipahami Dulu

AHA (Alpha Hydroxy Acid) larut air. Molekulnya bekerja di permukaan kulit. Glycolic acid (dari tebu) punya molekul paling kecil sehingga paling mudah menembus, cocok untuk tekstur kasar dan hiperpigmentasi. Lactic acid lebih besar, sedikit lebih lembut, dan punya sifat hidrasi tambahan. Mandelic acid lebih besar lagi, sering dipilih untuk kulit sensitif atau yang rentan PIH.
BHA (Beta Hydroxy Acid) yang paling umum adalah salicylic acid. Ia larut minyak, jadi bisa masuk ke dalam pori bersama sebum. Itu sebabnya BHA unggul untuk komedo, pori tersumbat, dan jerawat. Selain eksfoliasi, salicylic acid juga punya efek anti-inflamasi ringan.
PHA (Polyhydroxy Acid) seperti gluconolactone atau lactobionic acid punya molekul lebih besar. Penetrasinya lebih dangkal, iritasi lebih rendah, dan beberapa PHA bersifat humektan. PHA sering jadi pilihan untuk pemula atau kulit yang mudah merah.
Singkatnya: AHA di permukaan, BHA di dalam pori, PHA lebih lembut di permukaan.
Apa yang Boleh Dicampur
Produk yang sudah diformulasikan berisi kombinasi AHA + BHA dalam satu botol biasanya sudah mempertimbangkan pH dan konsentrasi. Formula seperti itu dirancang agar stabil dan tidak saling menetralkan. Kalau kamu memakai produk tunggal yang mengandung keduanya, itu lebih aman daripada menumpuk dua produk terpisah.
PHA sering bisa digabung dengan AHA atau BHA dalam konsentrasi rendah karena sifatnya lebih toleran. Banyak pelembap modern menambahkan PHA sebagai supporting ingredient tanpa menimbulkan masalah.
Yang juga relatif aman: memakai BHA di malam hari dan AHA di malam lain (bergantian). Atau BHA di area T-zone yang berminyak, AHA di area pipi yang lebih kering—asal tidak overlapping di zona yang sama pada malam yang sama.
Apa yang Harus Dihindari
Menumpuk AHA konsentrasi tinggi (misalnya glycolic 10%) dengan BHA (salicylic 2%) di malam yang sama. Kedua bahan bekerja sebagai eksfolian. Efek kumulatifnya bisa membuat stratum korneum terlalu tipis, TEWL naik, dan kulit terasa perih saat pelembap dioles.
Menggabungkan AHA/BHA dengan retinoid (retinol, adapalene, tretinoin) di malam yang sama. Retinoid juga mempercepat pergantian sel. Kombinasi ini sering memicu iritasi, terutama pada pemula. Pisahkan: AHA/BHA di malam tertentu, retinoid di malam lain.
Memakai AHA atau BHA di pagi hari lalu lupa sunscreen. Kedua bahan meningkatkan sensitivitas terhadap UV. Tanpa proteksi, risiko hiperpigmentasi justru naik.
Menggunakan asam eksfoliasi saat barrier sedang rusak (kulit perih, flaking, atau baru selesai peeling). Barrier yang sudah bocor akan menyerap bahan aktif lebih dalam dari yang seharusnya, sehingga iritasi lebih parah.
Cara Memulai yang Lebih Aman untuk Pemula
Mulai dari satu jenis saja. Kalau kulit berminyak dan banyak komedo, pilih BHA (salicylic 0,5–2%). Kalau fokusnya tekstur dan kusam, pilih AHA (lactic atau mandelic 5–10%). Kalau kulit mudah sensitif, mulai dari PHA.
Frekuensi awal: 1–2 kali seminggu di malam hari. Amati 2–3 minggu. Kalau tidak ada perih atau kemerahan yang bertahan, naikkan frekuensi secara bertahap. Selalu ikuti pelembap yang mengandung ceramide atau panthenol, dan sunscreen di pagi hari.
Yang sering luput diperhatikan adalah pH produk. AHA dan BHA bekerja optimal di pH rendah (sekitar 3–4). Kalau kamu langsung menumpuk dengan pelembap ber-pH tinggi atau bahan yang menetralkan asam, efektivitasnya berkurang.
Kapan Perlu Evaluasi Profesional
Kalau setelah mencoba satu jenis asam selama 4–6 minggu hasilnya stagnan, atau kulit tetap reaktif meski frekuensi sudah diturunkan, evaluasi di klinik biasanya lebih efisien. Di Eva Mulia Clinic, pendekatan untuk kulit yang butuh eksfoliasi sering mempertimbangkan jenis lesi (komedo vs inflamasi) dan kondisi barrier sebelum menentukan apakah dibutuhkan formula BHA dengan delivery system tertentu atau peeling yang dikontrol dosisnya.
Treatment peeling di klinik menggunakan konsentrasi dan waktu kontak yang disesuaikan. Itu berbeda dengan produk rumahan yang kamu pakai setiap malam. Memaksakan kombinasi asam di rumah saat kulit belum siap justru memperlambat progress.
Catat selama dua minggu ke depan: asam apa yang kamu pakai, malam apa saja, dan bagaimana kulit bereaksi keesokan harinya. Data sederhana itu biasanya cukup untuk memutuskan apakah boleh menambah jenis kedua atau harus tetap di satu bahan dulu.
Baca juga:
- Salicylic Acid Jerawat dengan Lipophilic BHA Generasi Baru + Delivery System: Deep Pore + Anti-Inflammatory untuk Oily & Sensitive Skin
- Pantangan Sebelum Chemical Peeling atau Laser: Apa Saja yang Harus Dihindari?
- Ingredients untuk Jerawat: Mana yang Benar-benar Bekerja Saat Kulitmu Sedang Breakout?
- Treatment Jerawat di Eva Mulia Clinic Tebet: Apa yang Perlu Kamu Ketahui?